Lembaran Baruku di Asrama Jingga

Saat aku sedang mengetik tulisan ini, asrama PPSDMS sedang ditinggal penghuninya yang tertidur lelap, setelah baru sampai dari PKN siang tadi. Di saat inilah aku merasa nyaman berada di PPSDMS. Sebuah babak baru dari kehidupanku selama ini. Berbalik arah mungkin sampai 160 derajat. Awalnya aku sempat ragu, apakah bisa bertahan mengingat PPSDMS yang begitu islami, sopan santun, dan sarangnya aktivis kampus, dan itu sangat jauh dari kondisiku selama ini. Bahkan beberapa teman di fakultasku terkaget-kaget membayangkan seorang Iwan bisa menjadi peserta PPSDMS Nurul Fikri. Tapi, jalan yang diberikan Allah memang yang terbaik. Mungkin ada rencana lain yang lebih dahsyat menunggu usahaku untuk bisa membaktikan diri kepada negeri yang selama ini ku pendam.

Sempat Ingin Keluar

Membayangkan kehidupan asrama, penuh aturan, tinggal di rumah dengan banyak penghuni, sempat membuatku berpikir, akankah ku lanjutkan beasiswa ini. Meski diberi uang saku sebesar 300 ribu perbulan ditambah fasilitas asrama, PPSDMS memang bukanlah beasiswa yang menyilaukan mata banyak mahasiswa. Masih banyak lagi beasiswa yang lebih menggiurkan seperti Tanoto, Pertamina, BRI, dll. Namun, pemberian beasiswa disertai pembinaan yang islami lah yang menjadikan PPSDMS menjadi memiliki nilai lebih dibandingkan dengan yang lain.

Waktu Bakti Sosial di Pasar Minggu

Melihat namaku terpampang di pengumuman hasil seleksi akhir, tidak membuatku lantas bersuka cita, atau loncat kegirangan. Justru aku semakin bingung, akankah ku lanjutkan karena aku merasa diberi amanah sementara banyak orang lain yang tidak lulus, atau tidak ku lanjutkan mengingat aku orang yang individualis? Dengan hidup di asrama yang banyak orang tentu akan menjadi hambatan besar dalam aktivitasku mendatang. Selain itu aku merasa sangat-sangat minder. Mungkin hanya aku yang belum lancar membaca Al Quran.

Saat batas akhir tinggal di asrama aku hanya membawa pakaian dan bebebrapa buku. Maksudnya kalau aku memang benar-benar tidak betah, aku bisa langsung keluar dari asrama ini tanpa repot-repot mengurusi barang bawaan lagi. Bahkan suatu malam sempat aku akan mengirim SMS ke Mas Arif, teman kost ku yang isinya kira-kira “Mas kita akan bersama lagi dalam waktu yang lama di Kost H37”. Tiba-tiba aku tidak jadi mengirim SMS itu, dan segera menghapusnya. Lalu tidur.

PKN Goooo

Pendidikan Kepemimpinan Nasional 2010 alias PKN 2010. Di sinilah pertama kali kami peserta beasiswa PPSDMS Angkatan V berkumpul dari seluruh regional. Nama besar UGM memang membuatku sedikit percaya diri, tapi berbicara kemampuan diri, aku tidak bisa berkata apa-apa. Di PKN ini aku dipercaya menjadi konduktor/dirigen untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PPSDMS. Alhamdulilah, Regional III Yogyakarta sudah 3 kali berturut-turut menjadi dirigen saat PKN, dan aku bisa meneruskannya. Setidaknya ini membuktikan bahwa Regional III memiliki cita rasa seni dan budaya yang mungkin terpengaruh oleh kehidupan masyarakat Yogyakarta yang sangat mencintai seni budaya. Meskipun bukan prestasi apa-apa, tapi diberi kesempatan untuk memimpin lagu kebangsaan dan Mars PPSDMS dihadapan orang-orang besar seperti  Panglima TNI, Menteri Ristek, Menteri Sosial, perwakilan perusahaan, ratusan peserta dan alumni PPSDMS sungguh luar biasa bagiku.

Diberi amanah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya didepan Panglima TNI dan Pak Musholi

Keluar dari Balai Sidang UI aku melihat profil satu persatu peserta. Hampir semuanya mengikuti kegiatan perpolitikan kampus seperti BEM atau kegiatan dakwah islam. Sementara aku menuliskan Resimen Mahasiswa dan Marching Band, Gama Cendekia, serta LM Psikologi. Prestasiku juga sedikit dan mudah-mudahan bisa bertambah selama aku di PPSDMS.

Namun, di PKN inilah aku bisa berhubungan lebih erat bersama teman-teman di regional III Jogja. Masalahnya, meski sudah berasrama sejak 4 hari, nama teman-teman yang ku hapal hanya beberapa. Di PKN 2010, tampak regional Jogja yang paling ngeksis, heboh, dan konyol. Kami mendapat banyak teman-teman yang menyenangkan dari kampus lain. Anak-anak dari ITB ternyata menyenangkan juga, mereka low profil padahal dari kampus top & terkenal. Apalagi si Fahmi, yang mirip banget sama sepupuku, anaknya asik.

Dari ITS, UNAIR, IPB, UNPAD, UI kami berkumpul bersama-sama bagaimana berusaha memikirkan dan mencari cara untuk membangun bangsa ini. Waktu tujuh hari sangatlah singkat. Namun, potensi yang dimiliki dari kami, bukanlah hal yang mustahil membuat Indonesia jadi lebih baik. Sedikit apapun usaha kita akan sangat berharga daripada terlalu banyak bicara dan interupsi tapi hasil nol.

One thought on “Lembaran Baruku di Asrama Jingga

  1. anak asrama juga says:

    meretas langkah awal wan…
    suatu saat nanti, akan datang ragu… akan datang lelah… akan datang bosan… bahkan mungkin sesal…
    …dan di sanalah, seperti yang sudah pernah kita bahas…
    …di sanalah kita mendalami makna KOMITMEN…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s