WAYANG,,I LOVE YOU FULL…..

Ini wayang yang di Purna

Sebelumnya aku ucapkan selamat Ulang Tahun kepada salah satu dosen Filsafat UGM yaitu bapak yang telah memberikan saya sebuah “kado” istimewa yaitu pagelaran wayang kulit di Halaman Purna Budaya Koesnadi Universitas Gadjah Mada yang sungguh luar biasa.

Wayang adalah salah satu  mahakarya seni budaya Indonesia. Hampir di setiap daerah memiliki wayang dengan jenis yang berbeda-beda. Namun yang ku lihat malam itu adalah kesenian wayang kulit Jawa. Wayang kulit atau dalam bahasa inggrisnya Pupet merupakan boneka gepeng pipih yang terbuat dari kulit. Oleh karena itu maksud dari anak semata wayang, karena wayang hanya memiliki satu mata pada masing-masing sisi (bingunggak :D)

Kebanyakan orang termasuk aku, menyaksikan wayang dengan embelakangi dalang, padahal tempat untuk menonton wayang paling baik adalah dibalik layar putih sehingga yang kita lihat adalah bayangan dari wayang yang dimainkan dalang (namanya juga wayang yag berarti bayangan). Dan aku menyaksikan diri bagaimana dramatisnya wayang kalau dilihat dari posisi yang benar. Tidak kalah dengan animasi-animasi saat ini. Kita dapat melihat betapa dinamisnya wayang. Meskipun sosok aslinya hanya gepeng, namun yang kulihat saat itu wayang seakan-akan memiliki nyawa, ia hidup dengan gerakan-gerakan yang membuatku sangat kagum. Belum lagi dalangnya, jiaan guyonane kuwi lho,,ngakak tenan, membuatku betah berlama-lama disana meskipun suasana cukup dingin.

Meskipun sebagian besar aku tidak paham dengan bahasa kromo inggilnya yang hualus banget, tapi beberapa tokoh yang disuarakan dalang bisa kupahami. AKu juga dapat menangkap pesan-pesan dari pertunjukan wayang tersebut yang antara lain bahwa kita tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, jangan sombong meskipun bergelar M.HUM atau janga terlihat bodoh padahal bergelar M.HUM. Waah ternyata Indonesia itu sungguh luar biasa. Mudah-mudahan wayang kulit Jawa ini tidak punah seperti saudaranya, Wayang Kulit Madura yang sudah tidak ada lagi penerusnya. Memang sih kita tidak  harus menjadi dalang, sinden atau pemain gamelan untuk melestarikan wayang. Dengan menonton wayang , bahkan sekedar punya rasa bangga aja itu sudah cukup untuk melestarikan mahakarya nenek moyang kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s