KLANGENAN JOGJA (Sesuatu yang Tak Bisa Ternilai Oleh Jogja)

Sabtu sore, Sabtu yang menyenangkan, Sabtu yang penuh harapan di tanggal 27 Maret ini.

Klangenan Jogja

Sepeda,,ya hanya si Bejo, sepeda ijo ku, itulah sahabatku untuk melanglang buana di pelosok Jogja dan sekitarnya. Sabtu ini aku berusaha membuang segala penat, yang hampir membuat  kepalaku serasa mau pecah. Tugas kuliah yang menumpuk, UTS yang semakin dekat, prestasi  akademis yang menyedihkan. Hanya sepeda dan dia lah yang membuatku semangat.

Perjalanan dimulai, dengan perlengkapan wajib helm, lampu dan sarung tangan. Rute wajib  pertama adalah kampus ku tercinta UGM. Disana aku melihat banyak sekali remaja yang  berkeliling untuk mencari lokasi ujian. Ya besok hari adalah pelaksanaan Ujian Tulis UGM  2010 dan aku menjadi salah satu pemandu untuk hari H. Perjalanan berikutnya melewati Jalan  Mangkubumi, Jalan Malioboro dan keliling kota yang entah aku tidak tahu apa nama jalannya.

Melewati jalanan yang gelap sambil mendengarkan lagu Yogyakarta-nya Kla Project membuatku  seolah-olah lupa, bahwa ini adalah bukan rumahku. Keluargaku jauh disana. Kekasihpun ku  entah berapa ribu KM dari sini. Tapi, walaupun tidak ada saudaraku disini, seolah-olah Jogja  adalah rumah keduaku.

Kembali ke Malioboro aku menyaksikan pertunjukan tradisional yang digelar dinas Pariwisata  dan Kebudayaan Yogyakarta, yaitu Klangenan Jogja yang berarti Sesuatu Yang Tak Bisa Ternilai dari Jogja.

Yeaah inilah yang aku tunggu dari Jogja. Kesenian tradisional yang sudah tidak dianggap lagi oleh generasi muda saat ini. Tapi tidak buatku, kesenian tradisional ini lebih menarik, lebih mengesankan dan jauh lebih bernilai seni dibandingkan suara-suara jiplakan yang gak jelas. Seni yang cuma modal enak didenger, enak diliat, cuma mengandalkan  ketampanan atau kecantikan si vokalis, halah, gak banget. Bahkan mereka gak lebih baik dari  Jathilan yang sering aku lihat di perempatan lampu merah Janti.

Penampilan pertama adalah Tek Tek atau kesenian dari bambu yang dimainkan 9 pemusik, 1 penyanyi dan 3 penari. Penampilannya bagus banget walaupun suara bambunya gak jelas, tapi suara sulingnya keren juga. Berikutnya adalah Tarian Candek Ayu perwakilan Kecamatan Umbulharjo yang dimainkan dua orang penari remaja cilik. Meskipun tidak menggunakan  instrumet alat musik nyata tapi its oke lah, keren juga dan mendapat applouse dari penonton.

Nah penampilan berikutnya adalah yang paling aku suka, yaitu Jathilan Turonggo dari  Lempuyangan. Penampilan yang satu ini membuat ku ketawa terbahak-bahak karena dialognya yang  konyol. Selalu menggunakan kata “Iki Maning Iki Maning”. Pokoknya keren.

Jam sudah menunjukan pukul 21:00 aku harus pulang. Sayang sekali padahal acaranya sampai jam 12 malam. tapi gak papa karena rencananya acara ini akan diselenggarakan setiap hari Sabtu  akhir bulan. Akupun menyusuri Jalan Malioboro ke utara. Sampai pertigaan sebelum Mall Malioboro aku di stop oleh pak satpam dan meminta untuk melewati jalan alternatif. Oohh  mungkin ada kesenian Banyumasan yang pakai bambu,tidak apa-apa aku memutar daripada aku harus menganggu wisatawan yang berjoget ria diiringi musik bambu. Dan gerimispun turun seolah-olah mendinginkan tubuhku yang gerah karena pakaian double. Oh Jogja kau tampak  mengerti apa mauku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s