Kisah KKN PPM Peduli Bencana Sumatera Barat yang Mengesankan (part 1)

Cihuuuy,,akhirnya setelah sekian lama tidak bertemu dengan lapy kesayanganku,,,naluri ngeblogku terasa menggebu-gebu ditengah tugas verbatim yang menjengkelkan itu. Jari ku seolah berkata

“hei bro cepet lah buka tuh laptop,,gw kangen sama tombol-tombolnya”

Huahahahha, yo wes lah saatnya kita beraksi dengan menceritakan dahsyatnya menjadi tim KKN PPM Peduli Bencana Gempa Sumatera Barat.

Gempa Padang atau Gempa Pariaman?
Saat itu aku sedang latihan marching band, ketika Ferdi, pemain bariton yang asli Padang, meminta izin ke pelatih bahwa terjadi sesuatu di Padang. Ternyata berita itu adalah berita duka mengenai gempa besar yang terjadi sore hari Rabu 30 September 2009. Lokasi gempa berada di dekat dengan kota Pariaman, tapi kenapa orang-orang lebih menyukai menyebut Gempa Padang? Bukan Gempa Pariaman, atau Gempa Sumatera Barat?

“hey wan tanya juga dong, kenapa orang lebih suka menyebut Palembang untuk Sumatera Selatan? Medan untuk Sumatera Barat?”

Begitu sampai di kost aku melihat sebuah potongan gambar yang bagiku itu sangatlah tragis. Sebuah foto dimana bangunan rumah gadang yang ambruk dan rasanya menyaksikan foto itu seolah-olah Sumatera Barat hancur total. Hmmmmmm

Panggilan Menwa

Briefing di Halaman Gedung Pusat UGM sebelum keberangkatan

Sebelumnya aku berharap diterjunkan di Tasikmalaya yang juga terjadi gempa beberapa minggu sebelum Gempa Sumatera Barat. Namun aku mendapat kabar bahwa ada tawaran untuk diberangkatkan ke Sumatera Barat oleh Menwa UGM. Segera aku menghubungi Agi yang saat itu menjabat sebagai KSU Operasi dan meminta agar aku diprioritaskan, mengingat saat itu aku berpikir bahwa banyak anggota yang tertarik untuk diterjunkan di Padang. Ternyata, tanpa minta diprioritaskan pun aku tetap saja bisa berangkat ke Padang. Akhirnya hanya 5 orang dari 7 anggota Menwa Yudha 32 yang jadi berangat tanpa tes seleksi. Fiuuuh akhirnya,,,bagiku meninggalkan bangku kuliah selama sebulan tidaklah bernilai apa-apa dibandingkan dengan pengalaman menghadapi situasi pasca bencana. Di Padang pula,,hahahaha,,akhirnya aku bisa berangkat juga ke daerah yang kata temen-temen asli sana kayak surga dunia. Apalagi semester ini aku mendapatkan beasiswa BOP, mungkin Allah memberikan beasiswa kepadaku karena ada misi tersembunyi dibaliknya, wa’allah hu allam,Perjalanan Yang Mengesankan

Kita diberangkatkan naik bus,,,owh yeaah,,pasti akan sangat mengesankan. ternyata betul, selama di perjalanan menuju Jakarta saat-saat itulah kami membaur dari beragam angakatan, jurusan, asal daerah untuk saling mengenal. Sampainya di Jakarta, kami disambut oleh Wakil Presiden terpilih Budiono, Mendiknas Bambang Sudibyo dan Menteri PU Djoko Kirmanto. Meski ada perasaan bangga bertemu secara langsung oleh pejabat negara saat itu, namun aku merasakan suatu keanehan…Hmmm mungkin hanya pikiranku saja.

Disambut Kagama Pak wapres terpilih, mendiknas dan menteri PU

Hahaha ternyata ada juga yang baru pertama kali ke Jakarta,,Jadi inget ceritanya orang betawi yang bilang “gak useh lo pade ngaku jadi Warga Negara Indonesia, kalo belum pernah ke Jakarte, wk wk wk wk ”

Narsis dulu di Pelabuhan Merak

Kemudian bis melaju menuju Pulau Sumatera, sampai di Lampung, salah satu dari tim terkena Cacar. Waah bisa-bisanya cacar menyerang salah satu dari kami yang berada di bis. Dengan kondisi di dalam bus, penyakit yang pernah menewaskan Pangeran Antasari ini akan sangat mudah menular (nanti akan ada kisahnya). Tetapi untungnya, sampai perjalanan berakhir di Pariaman, cacar belum menulari yang lain.

Padang Yang Padhang
Sebelum sampai di Kota Padang, kami menuruni bukit curam dengan jalan yang berkelok-kelok pada malam hari. Namun sampailah aku ke titik yang membuatku sedikit emosional. Saat itu aku melihat ratusan lampu di ujung bawah sana, terlihat sangaaaaaaaaaat indah , dan itulah kota Padang yang kala itu bersinar. Kenapa emosional? Ya,karena di tengah gemerlapan lampu kota di tepi laut itulah, ratusan orang tewas dan hilang, ratusan bangunan hancur, dan di gemerlapan lampu itulah, sepuluh hari yang lalu terjadi gempa dahsyat. Ku pikir Padang tidak lagi padhang (terang), ternyata keadaan membaik begitu cepatnya, dan aku mensyukuri itu.

Posko Ku ‘Mewah’ Sekali
Aku dibangunkan oleh sebelahku bahwa kita telah sampai. Hal yang pertama aku bayangkan adalah segera turun dari bus, membongkar logistik dan membangun tenda. Namun begitu aku turun, sebuah masjid kecil yang cukup mewah, tampak baru dibangun, dan diseberang jalan ada sebuah rumah mungil dengan desain minimalis yang cukup mewah juga. Sementara disebelah masjid itu aku melihat sebuah rumah yang cukup bagus namun ada sebuah tenda di depannya. Hmmm,,Mana yang rusak??begitu pikirku. Kemudian ada seorang warga yang ternyata wali korong (korong adalah sebutan untuk kampung di Sumatera Barat) mempersilakan kami untuk tidur di rumah seberang surau tersebut. Akhirnya bisa ditunda bikin tendanya.

Penampakan Posko KKN DERU Sumbar UGM

Karena gak bisa tidur lagi, aku dan Mas Iqbal dan beberapa teman lainnya, mencari Masjid untuk sholat shubuh. Saat itu lah aku merasakan bahwa Nagari Gadur (Nagari adalah sebutan untuk desa atau kelurahan di Sumatera Barat) betul-betul hancur karena gempa. Sepanjang perjalanan mencari surau, aku melihat rumah-rumah yang retak, rubuh, bahkan yang tinggal atap saja. Betul-betul tidak menyangka. Ku pikir Nagari ini baik-baik saja. Ketika sampai di Masjid Raya Gadur, aku menyaksikan betapa dahsyatnya gempa itu. Pelafon masjid sudah tidak ada karena runtuh sehingga atap masjid yang menjulang tiinggi terlihat dengan jelas. Syukurlah, masjid ini tidak rubuh, padahal atapnya saja mungkin tingginya lebih dari sepuluh meter. Ketiga paginya, aku baru tahu, masjid kecil bernama surau bungo yang aku lihat sesaat sesudah turun dari bus mengalami kerusakan yang cukup parah. Di bagian dinding sebelah barat ambrol, dan hampir di seluruh bagian retak-retak. Namun kubah masjid tetap nyaman berada di atap. Syukurlah….

Terus Kita Mau Ngapain????
Keadaan Korong Kampung Dalam, Nagari Gadur ini memang cukup parah, namun masyarakat tampaknya biasa-biasa saja. tidak langsung berkerumun di Posko ku yang mewah.
“hah posko?”
Oh iya lupa heheh rumah mewah yang seberang masjid itu ternyata adalah posko kami untuk sebulan hahahahha,,,keren kan. Back to ….

Dengan persiapan yang sangat minim, bahkan tahu siapa yang akan diberangatkan ke Padang pun sehari sebelum keberangkatan. betul-betul beda dengan KKN biasa yang bikin proposalnya saja berminggu-minggu sebelum pemberangkatan. Sebetulnya aku ingin di tempatkan di rekontruksi, namun karena jumlah orang yang masuk sana cukup banyak, terpaksalah aku masuk tim psikososial, ya ada beban moral juga sih sebagai anak Psikologi. Tapi pekerjaan pertama ku justru membuat rumah seng di rumahnya Awil. Kemudian membongkar rumah pak Syafi;i.

Menjadi kuli dulu ah

Rumah Pak Syafi’i

Anak-Anaaaak…!!! Kemarilah….!!!
Hari berikutnya yang cukup mengesankan bagiku adalah ternyata banyak sekali anak-anak. Pada dasarnya aku gak terlalu suka sama-anak-anak. Kecuali mereka yang putih, gemuk, lucu,ngeggemesin. Tapi bukan Iwan namanya kalau gak suka tantangan. Saatnya ku tunjukkan pada diriku sendiri bahwa aku bisa dekat dengan mereka

Beberapa dari anak-anak itu mudah akrab dengan kami, namun ada satu orang yang membuatku jengkel, Yogi, ya anak yang tampaknya kurang terawat ini sangat pemalu. Aku sudah memintanya untuk ikut menggambar seperti anak-anak yang lain namun tetap saja tidak mau. Akhirnya aku sedikit putus asa dan kertas gambarnya terpaksa ku gambari sendiri. Yiaaa,,akhirnya ketemu ide juga. Pada dasarnya anak kecil umur segitu paling suka kalau dihargai sama orang dewasa. Setelah beberapa menit menggambar, aku menyodorkan pensil warna kehadapannya dan berkata..

“Dik bisa tolong kakak gak? Warnai atapnya ya pakai ini,,soalnya kakak gak bisa”

Hahah dan dia pun mengambil pensil warna itu dan mulai mewarnai, yihaaa,,,akhirnya seluruh anak mulai akrab dengan kami, dan permainan pertama kali adalah domikado,,,

hahahahahah yes yes, awalan yang bagus untuk kami.
Bersambung……

5 thoughts on “Kisah KKN PPM Peduli Bencana Sumatera Barat yang Mengesankan (part 1)

  1. gaby says:

    gila….
    aku pengen KKN bencana gitu..
    ahhhh wan… kenapa ga ajak2 aku sih..
    menyenangkan ya.. masih 2008 udah KKn duluan.. hheee

    • Heheheh,,,enak banget lho mbak KKNnya
      KKN terdahsyat tuh

      Wah mbak gak bilang sih,,,padahal publikasinya dah kemana2 lhoo

      Oh iya mbak tanya aja ke LPPM kayaknya ada KKN gelombang ke dua,,nanti aku kasih infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s