My First Bike in Jogja

Rasanya, Jogja sudah terlalu padat dengan kendaraan bermotor. Julukan kota sepeda pun mungkin hanya berlaku di pagi hari ketika matahari mulai menampakkan diri, saat mbok-mbok dan mbah-mbah nggowes sepeda ontelnya. Aku sendiri merasakan susahnya menyeberang jalan-jalan di kota ini yang lebarnya tidak seberapa. Arus kendaraan bermotor seolah tidak ada hentinya, terkadang menyeberang Jalan Kaliurang pun harus menunggu satu lagu berdurasi 4 menit habis (sambil dengerin MP3 :D)

Sebetulnya pengen sih dibeliin motor sama bapak, kebetulan bapak juga nawarin. Cuma aku tidak tega, diizinkan kuliah di UGM aja senang bukan main. Lagipula, biaya operasional untuk sepeda motor itu lumayan tinggi. Buat bensin, service, belum lagi kalau ditilang (padahal udah lengkap surat dan performa motornya), perpanjangan surat ini itu, masalah lingkungan, wah wah wah, kayaknya kalau aku belum dapat pekerjaan tetap dengan gaji yang stabil gak perlu dulu punya kendaraan bermotor.

“satu lagi,,menunggu motor yang menggunakan BBA (Bahan Bakar Air) wkwkwkwkw”

Alhamdulillah, aku masuk daftar penerima beasiswa BOP untuk semester ini. Artinya aku gak perlu membayar BOP yang besarnya menyesuaikan dengan jumlah sks yang aku ambil. Hasilnya uang yang seharusnya untuk membayar BOP dialokasikan untuk membeli sepeda. Toh sepeda ini juga untuk memfasilitasi kegiatanku di kampus. Meskipun jarak dari kostku ke kampus sangat dekat, tapi sangat tidak efisien kalau jalan kaki apalagi kalau ada acara yang mendadak.

Setelah sampai di Jogja, aku segera beburu di sebuah toko sepeda di Malioboro. Tapi sepeda merk U****D gak ada, dan harganya lumayan mahal merk P*****N. Dari Malioboro aku pergi ke Jalan Brigjen Katamso, yang terkenal pusat penjualan sepeda. Akhirnya aku dapat yang merk Wim Cycle dengan harga di bawah satu juta. Mulailah petualanganku bersepeda di padatnya jalanan Jogja. Waaah seru banget, bisa nerobos di sela-sela mobil, lewat trotoar, ngelawan arus *yang ini gak baik, jangan dicontoh- dan gak khawatir di tilang polisi*paling banter ditegur, gara-gara ngebut. Yang seru itu waktu masuk ke gang-gang di sebuah kampung di sebelah barat Malioboro, yang sama sekali belum pernah aku lewati untuk menghindari jalan yang macet, nyaris nyasar, tapi akhirnya ketemu jalan utamanya juga.

Apalagi kalau sudah di kampus UGM, kayaknya pengguna sepeda yang diuntungkan dengan pemasangan portal disana-sini. Jalanan sepi dari kendaraan bermotor yang notabanenya adalah ‘musuh’ bagi para biker. Ditambah ada jalur khusus sepeda di Boulevard*sayangnya banyak pengemudi mobil yang gak tau diri, parkir di jalur sepeda. Di Kota Jogja sendiri sudah dipasangi rambu-rambu petunjuk jalur sepeda. Fungsinya adalah agar pengendara sepeda bisa melewati jalur yang aman, tidak ramai dengan kendaraan bermotor dan menghindari polusi.
Intinya bersepeda itu asyik deh, badan sehat, karena gerak, gak boros uang, kelihatan lebih keren *my opinion lhoo, bebas ditilang, biaya parkir yang murah bahkan beberapa yang gratis. Gak perlu perpanjangan surat ini itu. Dan yang penting, membuat kita lebih peduli dengan lingkungan dan meringankan beban orang tua

6 thoughts on “My First Bike in Jogja

  1. waaa, sepedanya sama cuma beda warna, hehe
    pengen ke kampus naek sepeda juga mas, tapi rumahku di daerah kraton =_=
    mungkin besok gak tiap hari naeknya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s