Agama Itu Untuk Kedamaian dan Perdamaian

Di Ambon, pemuda-pemudi islam dengan menggunakan peci, menggunakan jilbab, berada di depan gereja. Mereka bukan ikut kebaktian, namun mereka dengan rela hati menjaga keamanan terhadap kegiatan yang ada di gereja tersebut. Ambon, sepertinya mereka sadar, bahwa konflik agama yang terjadi di masa lampau, merupakan sesuatu hal yang mengerikan dan sangat memalukan di bumi yang terkenal keramahannya.

Dekat rumah ku, puluhan anak muda chinese, mendirikan sebuah pos dekat masjid saat idul fitri. Mereka memaksa polisi (yang sedang menjaga sholat) agar polisi ikut sholat, masalah keamanan agar diserahkan kepada mereka. Saat itu sholat memakan badan jalan karena masjid tidak cukup menampung ribuan orang, dan pemuda pemuda chinese itu dengan rela hati, kulit putihnya terkena asap-asap polusi kendaraan yang berlalu lalang.

Namun aku agak terganggu dengan pernyataan suatu milis, bahwa kegiatan semacam itu, terlebih umat muslim yang menjaga greja adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Perbuatan itu dianggap “pembiaran terhadap kesesatan”. Aku mungkin belum cukup ilmu untuk dapat menafsirkan masalah ini berdasarkan alquran dan hadist. Tetapi yang aku tahu, setiap agama adalah pencipta kedamaian. Tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan, pembelaan diri memang dibenarkan. Indonesia sebagai negara yang multikultural, termasuk agama di dalamnya, sangat berpotensi terhadap konflik. Selama ini sumber konflik adalah kesalahpahaman, ketidakpengertian terhadap budaya-budaya yang lain. Sampai kapan kita selalu ribut, masalah ini masalah itu, kapan Indonesia akan damai jika setiap orang teralu berpikir buruk terhadap yang lain. Sudah berkacakah kita kalau kita yang terbaik? Allah menciptakan manusia dengan keanekaragamannya tidak lain tidak bukan untuk saling hidup berdampingan. Bukankah taman yang indah jika ada bunga yang ramai-ramai.

Terlepas dari akidah, setiap orang dari pelbagai agama sah-sah aja untuk dapat hidup saling berdampingan. Hidup ini untuk dinikmati dan untuk beramal. Allah memberikan kita kesempatan untuk hidup, untuk dapat menikmati anugerahnya ciptaannya, agar mereka mampu mendidik anak-anak mereka. Demi kehidupan yang lebih baik.

Aku ingin sedikit berbagi aja kekonyolanku pada saat SMA. Dulu di rumah aku dijuluki detektif karena beberapa “prestasi” gemilang ku mengungkap banyak kasus kasus, antara lain:

1. Menggagalkan usaha perampokan berkedok orang yang pura-pura kesasar, orang itu gak taunya cuma ingin tahu kondisi rumah sang korban yang telah berbaik hati menyediakan rumahnya sebagai tempat istirahat pelaku

2. Mengetahui pencuri sepeda teman rumah ku yang gak taunya teman sebangku aku waktu SD

3. Mengungkap bau busuk yang dikira mayat dari sebuah rumah kosong dengan pintu terkunci pada saat liburan puasa (banyak yang mudik) gak taunya cuma bangkai kucing yang lupa diurus sama yang punya karena ditinggal mudik (wah saat itu heboh banget)

Bukannya sombong tapi itu adalah pemicu mengapa aku terlalu terobsesi dengan yang namanya detektif, yang akhirnya malah membuat aku begitu naif
Begini ceitanya:

Saat itu aku naik kereta dengan di sampingku ada bapak X, Y dan Z. Aku emngobrol dengan bapak X dan Y.sementara tasku sendiri malah aku pangku (takut ilang) Stasiun demi stasiun ramai sekali kemudian stasiun demi stasiun semakin berkurang, saat itu hanya tinggal aku dan bapak X dan Y, sementara bapak Z entah kemana. Di Stasiun Pondok Cina bapak X turun dengan membawa tasnya. Dan tinggal aku dengan bapak Y. Di 2 stasiun sembelum stasiun terakhir gerbongku sepi sekali hanya tinggal 4 orang saja. Lalu aku mulai curiga dengan tas hitam yang ada di atasku, sementara bapak Y bilang kalau itu bukan tasnya, dan tidak ada orang lain yang berada dekat tas itu. Saat itu adalah heboh2nya peledakan bom sehingga aku merasa curiga sekali, maka dengan beraninya aku mengambil tas itu dan berusaha menggeledahnya karena khawatir isinya benda2 berbahaya, saat itu Pak Y membantu aku.

Tapi yang ada ternyata beberapa bungkus mie dan kopi bungkus serta sikat gigi. Ada juga celana dalam dan beberapa majalah. AKu merogoh hingga ke ruang tas terkecil, tapi untungnya tidak ada apa-apa. Akhirnya aku mengembalikan tas itu ke kabin.Dan satu stasiun sebelun stasiun tujuan Pak Y turun. Kini tinggal aku dan seseorang yang duduk beradapan denganku. Dan di stasiun terakhir, aku bersiap-siap turun, dan ternyataaaaaaa

Orang yang berada di depan ku ternyata adalah sang pemilik dari tas yang aku geledah bersama Pak Y tadi. Dan sudah pasti DIA MENYAKSIKAN SENDIRI BAGAIMANA TASNYA DIGELEDAH. Karena ia tepat berada di depan kami. Hihihihihi, dia senyam-senyum aja. Dan bilang
“Gak ada apa-apa kan dik? hehehehe, mau ngopi ndak?” sambil menunjuk lapak pedagang
“hehehe maaf ya pak, aku kira tasnya bukan punya bapak”

Akhirnya aku dan bapak itu jadi berkenalan, dan sempet ngobrol2 di stasiun sambil ngopi
Ternyata bapak itu adalah seorang guru di Bogor dan waktu itu mau mengunjungi istrinya di Jakarta. Terus pas aku tanya kenapa bapak itu gak bertindak pada saat aku menggeledah tasnya, ternyata justru dia sedang bersiap-siap menghajar ku jika tas itu aku bawa, tetapi begitu tasnya aku kembalikan ke dalam kabin, dan tidak ada barang-barang yang aku curi akhirnya beliau sadar bawa aku adalah anak yang baik-baik. Heheheheh
Duh Jadi malu kalo inget itu

Siang itu panas sekali, Malioboro begitu teriknya. Kali ini aku sedang berusaha menyusuri kota keduaku dengan berjalan kaki. Ternyata Jogja itu begitu khas. Aku berjalan mulai dari Jalan Ahmad Yani, Malioboro, Mangkubumi dan sebelum sampai perempatan Tugu aku berbelok ke arah kanan, menyusuri gang kecil. Sebelumnya aku tidak tahu ini arah kemana,,,justru aku berharap tersesat karena dengan tersesat kita akan menemukan hal-hal baru yang terkadang itulah sebuah jalan yang indah.

Jogjakarta dan mural.
Di sini memang kota penuh budaya. Budaya saling menghargai dan budaya untuk berkeinginan hidup yang lebih baik. Pesan-pesan itu tergambarkan di sebuah tembok, dengan warna-warni yang cemerlang, pesannya kira-kira untuk mengingatkan bahwa kedamaian itu diperoleh dengan berusaha menyeimbangkan unsur-unsur yang ada. Hmmm aku pun terus berjalan meyusuri lorong-lorong sempit itu bersama seorang ibu dengan bakul di belakangnya. Sementara ditubuhku menempel sebuah tas yang beratnya sudah pasti tidak seberapa dengan bakul yang dibawa ibu itu.

Jogjakarta dan kesantunan
Sebuah kota memang tidak pernah terlepas dari yang namanya perubahan. Jogjakarta berhati nyaman, sepertinya hari itu aku betul-betul belum merasa nyaman dengan jogja. Kendaraan begitu ramai, dan sama sekali tidak memperlihatkan kesantunannya, bis-bis kota berasap hitam dengan gagahnya menyelonong perempatan di saat lampu berwarna merah. ( apakah kesantunan hanya dimiliki oleh makhluk-makhuk yang bernyawa? Bukan dimiliki oleh benda?) Owh tentu tidak, sistem dari benda itu justru dikendalikan oleh yang bernyawa tadi, dan justru saat itulah sebuah cermin dari siapa saja yang berada di jalan. Sungguh miris, konon jogja adalah kota sepeda (betul kok, sepeda motor maksudnya). Tampaknya masyaraat di sini sudah hampir mendekati kota pertamaku, selalu Berlomba Dengan Waktu

AKu kasihan tapi…

Siang itu kawasan Malioboro panas sekali dan bateraiku dalam keadaan baterei yang lemah. Tiba-tiba ada sebuah SMS

From : 085656531867
To : Iwan Budi Santoso

Anda mempunyai PESAN SUARA 2 dari +6285656531867 dan lainnya. Untuk mendengarkan silakan Ketik : TP<spasi>+6285656531867<spasi>11123 kirim ke 151 GRATIS.!!!

Karena kemarin pulsaku habis dan tadi pagi baru diisi sama ibu ku, aku pun iseng-iseng pengen dengerin pesan suara itu. Aku kirim pesan ke 151 dan aku ketik TP +6285656531867 11123. Setelah lama aku menunggu datang sebuah sms dari 151

From : 151
To : Iwan Budi Santoso
Anda diperbolehkan mentransfer pulsa selama sisa pulsa anda setelah transfer minimal Rp. 5.000

Wah kurang ajar aku ternyata format TP bla bla bla kirim ke no 151 adalah format untuk mentransfer pulsa bukan untuk mendengarkan pesan suara (TP= Transfer Pulsa).
Dengan format seperti TP +6285656531867 11123 maka kejadiannya adalah aku akan ngirim pulsa sebanyak Rp. 11.123 ke no 085656531867.

Wah ternyata modus penipuan baru nih (atau aku yang gak up to date yah) hihihihi untung pulsa ku waktu itu tinggal 8.000 jadi gak bisa mentransfer pulsa. (Gak sia-sia hidup melarat dengan pulsa kering kerontang) ha ha hahahahaha

Wah bahaya juga ya. Penipuan semacam ini justru lebih efektif dari pada dengan mengirim sms mengiming2i hadiah uang jutaan rupiah. Karena sang penipu bakal mendapat pulsa secara langsung tanpa harus kontak dengan sang penerima SMS

Tapi jangan contoh ini ya, aku dah baik-baik ngasih kamu info tapi jangan disalahgunakan. Hargai jerih payah mereka dalam mencari uang, meskipun pulsa mereka berasal dari orang tua atau siapapun itu. Ingat segala perbuatan anda akan diminta pertanggung jawaban nanti.
Thanks ya

Di Ambon, pemuda-pemudi islam dengan menggunakan peci, menggunakan jilbab, berada di depan gereja. Mereka bukan ikut kebaktian, namun mereka dengan rela hati menjaga keamanan terhadap kegiatan yang ada di gereja tersebut. Ambon, sepertinya mereka sadar, bahwa konflik agama yang terjadi di masa lampau, merupakan sesuatu hal yang mengerikan dan sangat memalukan di bumi yang terkenal keramahannya.

Dekat rumah ku, puluhan anak muda chinese, mendirikan sebuah pos dekat masjid saat idul fitri. Mereka memaksa polisi (yang sedang menjaga sholat) agar polisi ikut sholat, masalah keamanan agar diserahkan kepada mereka. Saat itu sholat memakan badan jalan karena masjid tidak cukup menampung ribuan orang, dan pemuda pemuda chinese itu dengan rela hati, kulit putihnya terkena asap-asap polusi kendaraan yang berlalu lalang.

Namun aku agak terganggu dengan pernyataan suatu milis, bahwa kegiatan semacam itu, terlebih umat muslim yang menjaga greja adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan. Perbuatan itu dianggap “pembiaran terhadap kesesatan”. Aku mungkin belum cukup ilmu untuk dapat menafsirkan masalah ini berdasarkan alquran dan hadist. Tetapi yang aku tahu, setiap agama adalah pencipta kedamaian. Tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan, pembelaan diri memang dibenarkan. Indonesia sebagai negara yang multikultural, termasuk agama di dalamnya, sangat berpotensi terhadap konflik. Selama ini sumber konflik adalah kesalahpahaman, ketidakpengertian terhadap budaya-budaya yang lain. Sampai kapan kita selalu ribut, masalah ini masalah itu, kapan Indonesia akan damai jika setiap orang teralu berpikir buruk terhadap yang lain. Sudah berkacakah kita kalau kita yang terbaik? Allah menciptakan manusia dengan keanekaragamannya tidak lain tidak bukan untuk saling hidup berdampingan. Bukankah taman yang indah jika ada bunga yang ramai-ramai.

Terlepas dari akidah, setiap orang dari pelbagai agama sah-sah aja untuk dapat hidup saling berdampingan. Hidup ini untuk dinikmati dan untuk beramal. Allah memberikan kita kesempatan untuk hidup, untuk dapat menikmati anugerahnya ciptaannya, agar mereka mampu mendidik anak-anak mereka. Demi kehidupan yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s