Mengenal Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (Komandan Mahakarta Pertama(1962–1965), Mantan Rektor Universitas Gadjah Mada)

Pak Jo (wikipedia)

Pak Jo (wikipedia)

Prof. Dr. Ir. Herman Johannes lahir tanggal 23 Mei, beliau sendiri tidak megetahui secara pasti tahun dia lahir. Pak Jo, begitulah panggilan akrabnya, mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke Technische Hogerschool atau Sekolah Tinggi Teknik di Bandung (STT) berbekal nilai tertinggi waktu sekolah Menengah. STT ini menjadi Fakultas Teknik UGM setelah pindah ke Yogyakarta. Pak Jo adalah mahasiswa yang cerdas, ulet dan kreatif. Bahkan ia pernah memuat tulisannya di majalah terkemuka saat itu, yaitu De Ingenieur in Netherlandsch Indie. Sambi melanjutkan kuliah beliau juga mengajar di STT. Akhirnya ia diwisuda pada Oktober 1946. Pak Jo ini ternyata suka sekali pada ilmu Fisika. Meskipun beliau adalah mahasiswa Teknik Sipil, ia diberi kepercayaan mengajar ilmu fisika di sekolah kedokteran. Pada saat itu, Pak Jo juga berjuang sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mewakili daerah Bali, NTB, dan NTT.

Beliau pasti bangga banget kalau ada menwa ugm atau menwa indonesia yang bisa mengikuti jejaknya, cerdas ulet dan kreatif

Perjuangan Pak Jo dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga sangat mengesankan. Pak Jo menggunakan laboratorium perguruan tinggi kedokteran untuk merakit berbagai jenis persenjataan pembunuh dan penghancur musuh. Pada tangal 5 November 1945, Pak Jo datang ke Yogyakartamemenuhi panggilan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) untuk membangun laboratorium persenjataan markas tertinggi tentara. Kemudian Pak Jo membangun laboratrium Knalwik, bahan peledak dan granat tangan di Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Kota Baru yang kini adalah SMAN 3 Padmanaba dan berbagai macam pabrik senjata. Di dalam laboratorium itulah para dosen, asisten, dan mahasiswa perguruan tinggi Kedokteran dan Sekolah Tinggi Teknik bekerja.

Waaah berarti pak jo tuh teroris dong

Iya bagi penjajah, tapi bagi kita beliaulah pahlawan sejati. Berkat jasa-jasanya itu Pak Jo diberi pangkat mayor. Dan tugas utama sebagai gerilyawan adalah meledakan jembatan jalan raya dan kereta api. Dan kerennya lagi Pak Jo ini menjadi dosen Sekolah Tinggi Teknik lho meskipun masih berstatus mahasiswa. Pak Jo juga menyusun buku tentang bagaimana membuat bahan peledak. Pada tanggal 19 Desember 1948, Pak Jo nyaris gugur karena 70 buah ranjau darat di gudang persenjataan meledak.

wah untung pak jo masih bisa hidup, syukur deh

Boleh dibilang Pak Jo adalah Mahaguru yang jujur, ilmuwan teladan, gerilyawan yang rapuh secara fisik namun bermental baja. Pak Jo sendiri akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 17 Oktober 1992 usia beliau saat itu diperkirakan sekitar 80 tahun. Sungguh merupakan kehilangan yang amat sangat bagi keluarga besar UGM dan bangsa Indonesia. Semoga semangat beliau dapat diteruskan oleh para mahasiswa saat ini.

Pak jo, kami sangat bangga terhadap mu, semoga bapak bisa terus menginspirasi dan memberi motivasi bagi kami generasi muda yang nanti akan membangun negeri.

Referensi :

Menjadi Pembelajar Sukses, Neila dkk, Program Peningkatan Pertumbuhan Kepemimpinan Berkualitas Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2008

Sejarah Lahirnya Universitas Perjuangan Universitas Gadjah Mada, Senat Akademik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s