Prajurit Itu

Prajurit itu bernama Sersan Mayor Suwakir. Ya dia adalah pelatih pioneer ketika Diksar Menwa Yudha 32 di Magelang. Dia orang yang sangat baik ketika mengajar. Berbeda dengan pelatih lainnya, Pak Suwakir adalah orang yang sabar, selalu tersenyum dan tidak sedikitpun menegur kami para siswa yang ribut sendiri di dalam kelas. Meskipun begitu materi yang disampaikan beliau cukup jelas

“tergantung orang yang mendengarkannya sih”

Kebaikan Pak Suwakir tidak hanya ketia ia mengajar saja. Ketika panitia malam inagurasi kebingungan menyiapkan segala hal, Pak Suwakir dengan rela hati membantu. Urusan membeli konsumsi ia tangani, bahkan ia rela memindahkan konsumsi yang ia beli dari mobil ke ruang kompi. Ketika malam inagurasi berlangsung, Pak Suwakir dan akulah yang menyiapkan penataan kelas yang digunakan untuk malam perpisahan itu. Aku dan Pak Suwakir sendiri tidak bisa menikmati malam itu karena sibuk dengan pengaturan acara. Namun ketika acara sudah berjalan stabil dan panitia sudah tidak terlalu sibuk, aku berbincang-bincang dengan beliau.
Aku sempat menanyakan berapa lama dan bagaimana kehidupan beliau sebagai seorang prajurit. Dengan antusias beliau menjelaskan bahwa menjadi prajurit adalah tugas yang sangat berat baik sesudah maupun sebelum reformasi. Beliau menceritakan perjuangannya di Timor Timor yang saat itu masih menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berjuang di tengah hutan rimba dengan perbekalan yang sangat minim. Ia hidup di hutan bertahun-tahun dengan kondisi siaga terhadap musuh yang siap-siap menyerang. Saat itu beliau masih belum menikah, sehingga yang saat itu ia pikirkan hanyalah keluarganya termasuk orang tua dan saudara-saudaranya. Ketika aku menanyakan apakah beliau menyesal menjadi seorang prajurit. Beliau mengatakan, kalau kita sudah niat menjadi sesuatu dan sanggup menjalankannya maka tidak akan pernah ada kata menyesal. Setiap peran selalu menimbulkan konsekuensi yang mau tidak mau harus dihadapi oleh semua orang meskipun itu kadang berat. Beliau juga menjelaskan, bahwa menjadi seorang menwa sebenarnya bukanlah perkara yang mudah. Menwa meskipun bukan militer namun harus mempunyai kemampuan-kemampuan dasar militer yang baik. Menwa harus memiliki mental baja, tahan terhadap segala rintangan dan hambatan.

Beliau juga menjelaskan bahwa ada empat hal yang mampu meningkatkan kesuksesan seseorang. Yaitu mental, akademik, jasmani dan kesehatan. Namun menurut beliau mental dan akademik adalah hal yang dominan. Saya cukup setuju dengan pendapat tersebut, bahwa kebanyakan orang sukses di dunia ini memiliki empat kriteria tersebut dalam diri mereka. Meski beberapa orang mengalami kelainan pada jasmani maupun kesehatan, namun selama mental dan akademik tetap kuat maka tidak akan menghalangi seseorang untuk sukses.
Berbicara dengan seorang yang banyak pengalaman seperti Pak Suwakir membuat aku bersemangat, bahwa keterbatasan bukanlah alasan seseorang menjadi tidak sukses, namun keterbatasan jika diimbangi dengan tekad yang kuat dan usaha yang keras akan menjadi cambuk untuk meraih kesuksesan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s