Mereka Harus Memahami Makna Kampus Kerakyatan…!!

Masyarakat Jogja akhir-akhir ini sedang ramai membicarakan mengenai penutupan beberapa ruas jalan yang terjadi di kampus UGM sebelah timur Jalan Kaliurang. Di harian Kompas Yogyakarta, dimana terdapat kolom khusus SMS warga, hampir setiap hari mereka yang merasa dirugikan dengan adanya penutupan jalan, menghujat tindakan pihak kampus, seperti, sudah tidak merakyat, UGM yang pelit, mendoakan agar kampus terkena angin puting beliung lagi, bahkan ada sms yang menghimbau agar warga UGM juga dilarang melintas di jalan-jalan Jogja.

Sudah aku jelaskan di note ku yang sebelumnya, bahwa pembatasan akses kampus UGM ini ada maksudnya, dan menurutku sih sudah di kaji oleh pihak yang berwenang. Aku sendiri juga heran dengan masyarakat Yogya, yang konon warganya santun, ramah tapi kok ya beringas begitu mereka mengendarai kendaraan bermotor (terkadang juga PLAT yang non AB). Terlebih ketika masuk kampus UGM, aku bisa membedakan mana yang warga kampus mana yang bukan, dilihat dari penampilannya, apakah dia memakai celana pendek atau tidak? Memakai kaus atau tidak? Pakai sandal jepit, dan lain-lain.

Aku sih merasa sudah sangat keterlaluan. Mungkin mereka tidak merasa betapa was-wasnya kami, para pejalan kaki akan kelakuan mereka di jalan. Ibarat menyebrang di jalan tol atau sirkuit. Bunyi kendaraan yang menggelegar, terkadang melawan arus. Berkendara sambil SMSan, berjalan meliuk-liuk, suka mengklakson orang yang akan menyebrang. Sebaiknya mereka berkaca diri, apakah sudah tertib di jalan? Apakah kampus kerakyatan harus membiarkan warganya yang “kere” harus ditindas oleh orang-orang berduit yang punya kendaraan bermotor dan bertingkah laku sesuahnya. Mereka harus paham itu, kampus kerakyatan itu adalah kampus yang mendharmabaktkan ilmunya untuk kesejahteraan masyarakat. Bukan dengan membiarkan masyarakat berbuat semaunya di kampus.

Kayaknya nggak banget, kalau mahasiswa yang notabenenya akan dipakai oleh masyarakat, harus mati sia-sia akbat kebodohan para pengendara kendaraan bermotor yang ugal-ugalan. Pembatasan itu maksudnya baik, agar lebih tertib, toh hasilnya buat kita-kita juga kan, lagian gak ada istilah menutup akses masyarakat umum.

Seputar Penutupan Jalan di Kampus UGM

Penutupan beberapa ruas jalan di kampus UGM, bukannya tanpa alasan. Aku merasakan, ketika berangkat entah untuk kuliah atau kegiatan-kegiatan lain di kampus, nyawa menjadi taruhannya, padahal di kampus sendiri. Begitu keluar dari kampung Kuningan, Jalan Notonagoro di depan Masjid Kampus UGM udah kayak sirkuit balap rally, ngebut semua, ditambah jalanan yang menurun. Belum lagi asap bis kota yang sudah seperti lokomotif kereta jadul di Ambarawa. Seperti yang sudah aku tulis di Note ku sebelumnya, mungkin karena suasananya khusus ditambah jarangnya polisi yang patroli di dalam kampus, pengendara motor justru lebih leluasa melakukan hal-hal gila. Seperti dua kendaraan motor, dimana mereka saling mengobrol saat kendaraannya berjalan, berkendara sambil sms, serta berjalan melawan arah. Apakah tidak menyadari, perbuatannya dapat membuat tulang orang lain patah, dapat membuat darah segar berucucuran, dapat membuat sedih ibu yang telah melahirkannya, dapat membuat penjual batu nisan kebanjiran order, membuat lahan kuburan kuan berkurang.

lho,,,dia kan juga bisa jadi korban

EGP (Emang Gw Pikirkan)

Belum lagi di Boulevard, jalanan yang lebar dan lurus serta pemandangan yang (lumayan) bagus, sudah seperti jalan tol. Ngebutnya bukan main. Masalah kecelakaan dan lain-lain itu hal yang biasa di sini. Terkadang boulevard juga dipakai untuk belajar mengendarai mobil. Wah wah,,ancaman di kampus sendiri.

Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Kampus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Cukup setuju sih pembatasan kendaraan yang masuk kampus, tapi kalau sudah dikomersialisasi (kalau melibatkan pihak swasta untuk menarik uang dari mahasiswa apa itu gak komersialisasi??) lain ceritanya. Meskipun aku gak pakai kendaraan bermotor, tapi tetap saja aku bisa merasakan “keberatan” dari temen-temen yang bermotor. Tampaknya kampus ini perlu mengingat kembali sejarahnya. Kampus ini ada karena kedermawanan seorang raja yang ingin mencerdaskan orang-orang di negerinya. Ketika kampus ini dituntut kedermawanannya,,,akankah uang menjadi jawaban yang tepat??

Gedung Agung vs Istana Negara

Masyarakat Menyaksikan Parade Senja di Dalam Lingkungan Istana

Masyarakat Menyaksikan Parade Senja di Dalam Lingkungan Istana

Kemarin (17 Agustus 2009) saya berkesempatan ikut mengisi dalam Parade Senja yang digelar di Gedung Agung Yogyakarta. Setelah saya amati ada hal yang menarik di Istana Negara Jogja ini.

Parade senja adalah sebuah hiburan yang dilakukan untuk memeriahkan acara HUT Kemerdekaan RI yang dilakukan di tempat dinas kepala daerah bertugas. Seperti istana negara, kantor walikota, maupun alun-alun di tiap-tiap daerah. Beberapa tahun belakangan saya diberi kesempatan mendapat undangan untuk menyaksikan parade senja di Istana Negara Jakarta. Yang dapat menikmati hiburan tersebut hanyalah orang-orang yang diundang, yang kebanyakan para pejabat, keluarga militer dan lain-lain (yang sebetulnya sudah puas dengan yang namanya hiburan). Namun hal yang jauh berbeda aku temui di Gedung Agung. Saat memasuki arena lapangan, aku melihat warga yang berada di dalam lingkungan Gedung Agung yang sangat beragam (mulai dari yang berpenampilan rapi, hingga maaf, berpenampilan seperti gelandangan) tumpah ruah menyaksikan hiburan yang diselenggarakan setiap tanggal 17 Agustus ini. Pengamanan cukup longgar meskipun beberapa waktu lalu di Jakarta terjadi serangan bom, dan di Istana Negara Jakarta pengamanan semakin di perketat, maka di Jogja tampak biasa-biasa saja. Hanya metal detektor yang digunakan di salah satu pintu dan dijaga aparat militer. Sementara pintu yang lain hanya di jaga oleh aparat keamanan non militer.

Aku merasa Gedung Agung itu betul-betul istananya rakyat, antara pemimpin dengan yang dipimpin disatukan dalam sebuah acara kebesaran negara, dan kondisi berbeda yang ada di Istana Negara Jakarta. Sebetulnya aku sangat setuju sekali terhadap salah satu usul yang sempat dilontarkan Pak SBY, bahwa upacara pengibaran dan penurunan bendera setiap tanggal 17 Agustus dilaksanakan di Lapangan Monas, dan diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun hingga kini belum ada realisasinya, terlebih adanya teror bom beberapa waktu lalu, semakin menipiskan harapan itu.

Semoga negara bisa membagikan semangat kemerdekaan, bukan hanya kepada orang-orang tertentu saja. Karena kemerdekaan adalah milik seluruh warga negara Indonesia. Akhirnya….apa yang terjadi di Gedung Agung saat itu layak ditiru,,,,

Dwi Warna Badanku

Lihatlah Tangan Ku yang Berbeda Warna

Lihatlah Tangan Ku yang Berbeda Warna

Hehehe kata dwi warna erat kaitannya dengan bendera kita tercinta, yaitu sang saka merah putih. Tapi dwi warna yang akan ku bahas hari ini adalah sebuah kejadian yang cukup lucu. Kemarin aku memiliki sebuah kaca yang cukup besar yang aku letakkan di kamar kost. Sehabis mandi aku baru menyadari, tubuhku aneh sekali. Bagian kepala, kedua tangan sampai setengah lengan dan leher berwarna hitam, sementara bagian badan hingga kaki cukup putih.

Astaga, aku menyadari bahwa hal ini pasti akan sangat memalukan seandainya aku ikut sama Pak Fredric renang di UNY. Warna-warni ini disebabkan latihan marching band yang dilakukan hingga siang hari dengan panas menyengat. AKu tidak mengenakan jaket dan selama itupun aku tidak peduli dengan kulitku yang hitam, putih atau krem sekalipun.

Hahahahaha,,tampaknya kalau aku ke Jakarta nanti aku harus membeli, banyak kaus lengan panjang, bahkan kalau perlu yang ada tutup kepalanya sekalian

Insiden Saat Parade Senja di Gedung Agung

Marching Band UGM saat Penampilan Parade Senja di Gedung Agung 17 Agustus 2009

Marching Band UGM saat Penampilan Parade Senja di Gedung Agung 17 Agustus 2009

Tampil di Gedung Agung, bagi sebagian teman-temankuĀ  adalah event biasa yang tidak terlalu istimewa. Tapi bagi aku, tampil di Gedung Agung adalah sebuah kebanggan, karena banyak dari mereka yang menyaksikan adalah pejabat-pejabat daerah termasuk Sang Sultan Jogjakarta, selain itu, penampilan kali ini adalah penampilan pertama kami memakai kostum Marching Band UGM yang kondisinya cukup memprihatinkan (secara udah 5 tahun gak ganti-ganti). Setelah aku merelakan liburan semester genapku yang lumayan panjang untuk latihan marching band, akhirnya tanggal 17 Agustus 2009 ini, kami tampil di Gedung Agung Yogyakarta, bersama Marching Band Atmajaya dan Genderang Suling Gita Dirgantara Akademi Angkatan Udara (AAU). Tema pagelaran yang kami bawakan adalah tembang dolanan. Lagu lagu yang kami mainkan antara lain, lagu pemanasan bass tunning dan Lupa-Lupa Ingat (kuburan Band) dan lagu intinya adalah Padhang Mbulan.

Namun terjadi sebuah insiden yang sangat menyakitkan menimpa diriku. Saat aku melakukan visual up tiba-tiba pipa adjustment yang bisa di geser terlepas saat lagu Padhang Mbulan. Akhirnya aku tidak bisa meniup nada-nada yag mengharuskan menekan piston ketiga seperti re, sel, la oktaf dan lain-lain. Untungnya nada-nada pada lagu ini hanya sedikit yang menekan piston 3 dan aku tetap percaya diri untuk meniup tanpa berusaha mencari-cari pipa adjustment itu. Setelah penampilan, akhirnya aku berhasil menemukan pipa tersebut dan mengambilnya saat Marching Out.

Semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Dan saat penampilan Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru UGM pada esok harinya, bagian itu aku sengaja ikat supaya tidak terlepas lagi. Semoga aku bisa berkesempatan lagi untuk tampil di Gedung Agung. Amiiin