Tiga hari yang lalu tanggal 9-11 Desember 2011, mahasiswa Mata Kuliah Psikologi Gender mengikuti kuliah lapangan di Kecamatan Panggang, Gunungkidul Yogyakarta. Disana kami diharapkan dapat memahami kenyataan di lapangan tentang perspektif gender pada masyarakat Panggang dalam kehidupan sehari-hari. Selama kuliah lapangan, kami tinggal di rumah warga. Saya bersama Dodi, Agung, Evan, dan Piti menumpang di rumah Pak Pardiman.
Selama tiga hari tersebut, sebetulnya saya tidak menemukan hal yang menarik dari kehidupan masyarakat di Panggang. Kehidupan masyarakat disana hampir menyerupai kampung halaman saya baik di Ngawi maupun Temanggung. Namun beberapa teman (wong kutho J) sangat tertarik dengan hal-hal yang dianggap sebagai kesetaraan gender, misalnya ada nenek-nenek yang memotong kayu, mengaduk semen dan lain-lain
. Bagi masyarakat desa, pekerjaan semacam itu sudah menjadi kebiasaan baik tua, muda, pria maupun wanita. Mengingat kondisi di desa sangat terbatas, maka tidak ada pilihan lain dengan memanfaatkan tenaga yang ada. Saya jadi teringat ketika masih kelas 4 SD di Ngawi, saya mencari rumput untuk makanan sapi dan kambing peliharaan mbah saya. Bagi orang kota, bisa saja, mbah dituntut dengan tuduhan mengeksploitasi anak dibawah umur. Namun, saya saat itu memang tidak mempermasalahkan, karena itu sudah menjadi kontruksi sosial disana.
Pelajaran dari kuliah di lapangan adalah tidak selamanya teori kesataraan gender berlaku sama di masing-masing budaya. Banyak krtik yang dilontarkan kepada kaum feminis yang cenderung mendobrak ciri khas budaya. Sehingga apa diperjuangkan telah menyebabkan perubahan sosial yang terkadang menimbulkan permasalahan bagi masyarakatnya.

