Kebutuhan hidup yang semakin meningkat saat ini telah menimbulkan kesadaran bahwa manajemen diri merupakan hal yang mutlak. Kebanyakan pengeluaran terjadi karena nafsu-nafsu sesaat (ciyeee bahasanya
yang datang begitu saja. Walaupun uang beasiswa yang kudapat cukup besar, aku merupakan tipe orang yang boros. Perencanaan sih memang sering aku lakukan, tapi implementasinya? NOL BESAR
.
Bulan Desember ini aku agak keteteran, karena sepedaku tidak bisa dipakai, dan harus membeli secara nyicil sepedanya Diko temen kostku dulu yang sekarang dah kerja di bank. Yap, karena sepeda sangat vital untukku yang tidak punya motor. Kebanyakan pengeluaranku habis untuk makan. Heheheh maklum, dalam satu hari saya bisa 3 sampai 5 kali makan. Oleh karena itu saya membutuhkan solusi bagaimana agar bisa makan kenyang, enak tentu dengan harga terjangkau.
Bermula dari kebiasaanku dulu saat sekolah di Ngawi, nenek selalu membuatkan ubi bakar atau jagung bakar sebelum aku berangkat sekolah. Nah karena bakar-bakaran tidak memungkinkan disini, maka yang bisa dilakukan hanyalah merebus. Ubi di Jogja lumayan mahal, di Pasar Demangan saya harus menebusnya dengan harga Rp. 4000 perkilogramnya. Tapi gak papa, karena ubi sekilo bisa mencukupi hidup selama 2 sampai tiga hari
. Sebetulnya saya bisa saja mendapatkan ubi secara gratis. Kebetulan Mas Agus, SKK penjaga portal KIK cukup akrab denganku dan terkadang saya diberi ubi gratis dari rumahnya di Magelang. Hehehehe.
Ternyata ketergantungan pada satu jenis makanan pokokĀ sepert nasi betul-betul merepotkan. Dengan kebiasaan seperti ini saya berusaha menghidupkan lagi kebiasaan melahap makanan pokok yang dulu betul-betul mampu menjaga bangsa ini terhindar dari bahaya kelaparan. Sebut saja jagung, sagu hingga tiwul. Bahan makanan pokok tersebut sangatlah lezat, hanya saja kita ini cenderung memproritaskan harga diri. Makanan selain nasi dianggap rendahan. Padahal kalau saja program diversifikasi makanan berjalan dengan baik, tidak akan ada lagi kelaparan di mana-mana. Tanaman seperti ubi mampu hidup baik di musim kemarau maupun penghujan sehingga stok pasti melimpah. Kita pun tidak perlu repot-repot memikirkan impor beras. Tapi ya itu kembali lagi pada selera.
Hehehe selamat makan, ubinya sudah matang


mas.y pinter juga… hemmm…. perlu d tiru nich cara.y.. hehehe
By: rindho on December 8, 2011
at 12:34 pm
Heheh ya habis gimana lagi
By: Iwan Budi Santoso on December 15, 2011
at 8:29 am
mantaph gan………………ane juga mw nge kost di jogja nie………..hehehe
By: joezz86 on February 28, 2012
at 10:17 pm
hahaha silakan,, menyenangkan kok kos disini
By: Iwan Budi Santoso on February 29, 2012
at 3:41 am