Akhir-akhir ini kampus ku agak ramai dengan isu-isu sekolah vokasi atau setara dengan Diploma 3. Mahasiswa Vokasi menuntut beberapa hal dari rektor UGM antara lain mengenai program ekstensi S1 dan perbaikan kualitas sarana dan prasarana Sekolah Vokasi (SV). Untuk yang terakhir ini saya rasa itu adalah permasalahan yang terjadi tidak hanya di vokasi, bahkan fakultas saya tercinta
. Nah kalau untuk yang tuntutan pertama, saya akan menyampaikan pandangan saya.
Program diploma atau SV merupakan program yang dikhususkan bagi mahasiswa yang ingin menjadi profesional sesuai bidangnya. Kemampuan yang akan didapatkan adalah kemampuan teknis, praktis dan terapan, sehingga lulusan Diploma adalah orang-orang yang siap bekerja. Sedangkan Sarjana merupakan program yang dibuat untuk mencetak analis-analis, konseptor dan ilmuwan. Oleh karna itu, materi yang ada di Program Sarjana sebagian besar teoritis dan general. Meskipun kita dengar ada praktikum pada beberapa jurusan, itu untuk menunjang teori yang dipelajari selama kuliah.
Memasuki program Diploma adalah pilihan bagi calon mahasiswa, yang seharusnya sudah memahami konsekuensi program yang dijalani. Sama halnya dengan orang-orang yang ingin masuk program sarjana, master profesi atau bahkan doktor memang harus mengetahui tujuan dari program tersebut. Permasalahannya adalah kebijakan di setiap kampus berbeda-beda. UGM sejak tahun 2010 (atau 2009 ya? Hehehe lupa) telah menghapus program ekstensi yang denger-denger sih agar lebih fokus dalam peningkatan mutu pendidikan. Maksudnya ingin menghilangkan anggapan bahwa program ekstensi hanya bertujuan untuk mendapatkan title sarjana. Sementara universitas lain seperti UI, Undip, Unpad dll masih membuka program alih jenjang alias S1 ekstensi. Nah, inilah yang mungkin kurang dipahami oleh mahasiswa Diploma UGM yang sebetulnya sangat antusias sekali melanjutkan studi S1 (melalui program Ekstensi) di UGM. Namun, apa mau dikata bahwa program ekstensi telah dihapus dan terkesan bahwa teman-teman Diploma merasa ‘kecele’.
Pemahaman jenjang pendidikan tinggi sudah selayaknya disosialisasikan sejak sekolah menengah, agar para siswa dapat memilih program yang tepat sesuai dengan potensi dan kemampuannya. Dalam hal ini peran guru Bimbingan Konseling sangat penting dalam memberikan pemahaman siswa mengenai lika-liku bangku perkuliahan. Lalu untuk teman-teman Diploma yang merasa terpinggirkan saya rasa tidak perlu merasa demikian. Bagaimana pun kualitas hidup atau masa depan sama sekali bukan ditentukan hanya jenjang pendidikan semata. Karena dalam perkembangan global seperti sekarang ini orang-orang yang menguasai lapangan lah yang akan mampu bersaing. Apalagi dengaan banyaknya praktikum serta masa studi yang relatif lebih singkat itu justru akan menjadi kelebihan sendiri jika dibandingkan dengan program sarjana. Untuk masalah prestasi saya rasa teman-teman Diploma juga tidak kalah dengan mahasiswa Sarjana. Contohnya adalah Politeknik Batam dan Politeknik Negeri Surabaya yang menjadi juara Kontes Robot. Saya sangat terkesan yel-yel suporter PENS Surabaya(dulu Diploma-nya ITS, langganan juara kontes robot nasional). yang bunyinya seperti ini:
Siapa bilang diploma itu beda
Diploma sama dengan sarjana
Yang bilang diploma itu beda
Hanya orang yang gak baca berita
Kita adalah sama, kita sama-sama mahasiswa, kita sama-sama punya keinginan untuk mendapatkan ilmu, bukan sekedar gelar, kita sama-sama punya keinginan untuk membahagiakan orang tua dengan ilmu yang kita miliki, dan kita sama-sama ingin membangun bangsa ini agar lebih baik.
SIAPA BILANG DIPLOMA ITU BEDA, HANYA ORANG YANG GAK BACA BERITA, WOOOO WOOOO WOOO WOOOO WOOOUOOOO



apakah mahasiswa sekolah vokasi hanya bisa menempuh pendidikan sampai D3 ?? bahkan D4 pun gak ada..
vokasi itu baru ya, kalo belum diakui DIKTI apakah lulusan vokasi mampu bersaing dalam dunia kerja ??thanks
By: sudariyatno on December 21, 2011
at 6:11 pm
“Mencaci dan mengusir demi pendidikan”, apakah kalimat ini bisa dibenarkan dalam dunia pendidikan .
By: Jayden Xuzyxis on December 22, 2011
at 1:19 pm