Masyarakat Jogja akhir-akhir ini sedang ramai membicarakan mengenai penutupan beberapa ruas jalan yang terjadi di kampus UGM sebelah timur Jalan Kaliurang. Di harian Kompas Yogyakarta, dimana terdapat kolom khusus SMS warga, hampir setiap hari mereka yang merasa dirugikan dengan adanya penutupan jalan, menghujat tindakan pihak kampus, seperti, sudah tidak merakyat, UGM yang pelit, mendoakan agar kampus terkena angin puting beliung lagi, bahkan ada sms yang menghimbau agar warga UGM juga dilarang melintas di jalan-jalan Jogja.
Sudah aku jelaskan di note ku yang sebelumnya, bahwa pembatasan akses kampus UGM ini ada maksudnya, dan menurutku sih sudah di kaji oleh pihak yang berwenang. Aku sendiri juga heran dengan masyarakat Yogya, yang konon warganya santun, ramah tapi kok ya beringas begitu mereka mengendarai kendaraan bermotor (terkadang juga PLAT yang non AB). Terlebih ketika masuk kampus UGM, aku bisa membedakan mana yang warga kampus mana yang bukan, dilihat dari penampilannya, apakah dia memakai celana pendek atau tidak? Memakai kaus atau tidak? Pakai sandal jepit, dan lain-lain.
Aku sih merasa sudah sangat keterlaluan. Mungkin mereka tidak merasa betapa was-wasnya kami, para pejalan kaki akan kelakuan mereka di jalan. Ibarat menyebrang di jalan tol atau sirkuit. Bunyi kendaraan yang menggelegar, terkadang melawan arus. Berkendara sambil SMSan, berjalan meliuk-liuk, suka mengklakson orang yang akan menyebrang. Sebaiknya mereka berkaca diri, apakah sudah tertib di jalan? Apakah kampus kerakyatan harus membiarkan warganya yang “kere” harus ditindas oleh orang-orang berduit yang punya kendaraan bermotor dan bertingkah laku sesuahnya. Mereka harus paham itu, kampus kerakyatan itu adalah kampus yang mendharmabaktkan ilmunya untuk kesejahteraan masyarakat. Bukan dengan membiarkan masyarakat berbuat semaunya di kampus.
Kayaknya nggak banget, kalau mahasiswa yang notabenenya akan dipakai oleh masyarakat, harus mati sia-sia akbat kebodohan para pengendara kendaraan bermotor yang ugal-ugalan. Pembatasan itu maksudnya baik, agar lebih tertib, toh hasilnya buat kita-kita juga kan, lagian gak ada istilah menutup akses masyarakat umum.
Filed under: Berita Indonesia, Kehidupan Kampus

